yaa warung kopi tungtau tepatnya
warung kopi dari zaman ke zaman ini didirikan sejak tahun 1938 . wow dari sisi apapun kita patut mengacungkan jempol.
bukan hal mudah mempertahankan usaha tradisi, tentunya ini menjadi salah satu hal kenapa kita mengacungkan jempol kita... (y) toppp .
Seorang pelayan berusia muda berseragam warna merah dan putih mendekati
dan membawa daftar menu yang panjang. Untuk pengalaman pertama dari
petualangan cita rasa kopi di sini, Kopi �O� harus menjadi pilihan. Ini
menu kopi pertama dari Warung Tung Tau sejak didirikan pada tahun 1938
dan terus dipertahankan hingga kini.
�Ting!� Suara bel menggema. Ini artinya, para peramu kopi di dapur sudah
menyelesaikan pesanan dan siap diantarkan ke pelanggan yang datang.
Secangkir kopi �O� siap diseruput. Uap dari dalam cangkir berbahan
keramik asal China mengantarkan wangi yang sangat menggoda. Rasanya,
sedap sekali. Meski bertajuk kopi hitam, tak banyak meninggalkan ampas
karena teksturnya yang begitu halus.
�Sejak awal, kopi yang dipakai di sini adalah kopi Robusta dari Lampung.
Pahit, tapi tidak asam. Kita olah sendiri, diolah secara tradisional
dengan kayu bakar selama satu jam. Jadi wanginya khas, khas kayu bakar,
lalu digiling sendiri,� ungkap Mariany, cucu Tung Tau yang kini
mengelola Warung Tung Tau besama adiknya, Teddy.
Bersama dengan kopi �O�, dua piring roti panggang juga diantarkan. Satu
piring adalah roti panggang isi telur dan piring lainnya isi srikaya.
Roti isi telur juga termasuk menu pertama Warung Tung Tau. Berbeda
dengan sandwich yang dilengkapi sayuran dan saus, menu ini hanya terdiri
dari roti dan telur rebus yang diiris tipis.�
Meski sesederhana ini, rasanya lezat karena rasa telur berpadu dengan roti berbalur mentega yang renyah. Mariany menyebutnya roti kuno. Ditilik dari bentuknya, roti ini dikenal dengan nama roti bantal. Roti panggang lainnya, termasuk srikaya, baru muncul sejak tahun 1980-an sejak warung dikelola oleh ayah dan ibu Mariany. Srikaya dan selai lainnya juga diproduksi sendiri.
Meski sesederhana ini, rasanya lezat karena rasa telur berpadu dengan roti berbalur mentega yang renyah. Mariany menyebutnya roti kuno. Ditilik dari bentuknya, roti ini dikenal dengan nama roti bantal. Roti panggang lainnya, termasuk srikaya, baru muncul sejak tahun 1980-an sejak warung dikelola oleh ayah dan ibu Mariany. Srikaya dan selai lainnya juga diproduksi sendiri.
Meski sudah lama berdiri, soal harga, Tung Tau tetap memanjakan
pelanggannya. Kopi �O� hanya ditawarkan dengan harga Rp 4.000, tambah
susu jadi Rp 5.000. Sementara itu, roti panggang dibanderol mulai harga
Rp 10.00. Roti isi tiga rasa ditawarkan dengan harga Rp 15.000.
Oya, jangan lupa coba menu roti panggang coklat-seleh. Apa itu? Di
Bangka, seleh digunakan untuk menyebut selai nanas. Selain kopi dan roti
panggang, menu khas di warung ini adalah telur setengah matang.
Merayakan masa lalu
Merayakan masa lalu
Nama Tung Tau diambil dari nama pendirinya, Fung Tung Tau, kakek dari
Mariany dan Teddy. Tung Tau pertama kali didirikan di Sungailiat, salah
satu kecamatan di Bangka, di utara Pangkalpinang. Tetapi sejak tahun
lalu, tak perlu jauh-jauh ke Sungailiat untuk mencicipi cita rasa Tung
Tau. Anda bisa menikmati di dua cabang yang baru dibuka tahun ini dan
tahun lalu di Pangkalpinang, yaitu di Jalan Sudirman dan Jalan Depati
Hamzah.
Keduanya memilih meninggalkan pekerjaan yang mapan di Jakarta dan pulang ke Pangkalpinang demi nilai historis warung kopi ini. Sejak ibu mereka berpulang pada awal tahun ini, dengan berbekal ilmu yang dikecap di kota, Mariany dan Teddy pun fokus mengembangkan Warung Tung Tau dengan manajemen yang lebih modern.
�Mutu dan cara pembuatan tradisional tetap dipertahankan, hanya manajemen yang dimodernkan,� ungkap Mariany.
Keduanya memilih meninggalkan pekerjaan yang mapan di Jakarta dan pulang ke Pangkalpinang demi nilai historis warung kopi ini. Sejak ibu mereka berpulang pada awal tahun ini, dengan berbekal ilmu yang dikecap di kota, Mariany dan Teddy pun fokus mengembangkan Warung Tung Tau dengan manajemen yang lebih modern.
�Mutu dan cara pembuatan tradisional tetap dipertahankan, hanya manajemen yang dimodernkan,� ungkap Mariany.
Hal yang membuat mereka pulang dan rela meninggalkan kemapanan di ibu
kota bukanlah iming-iming keuntungan. Perempuan berusia 40-an tahun itu
mengaku selain nilai historis dari tradisi warung kopi ini, mereka
merasa berhutang. "Kami dibesarkan dari warung ini," tuturnya.
Namun, karena masih mempertahankan cita rasa tradisional inilah, Warung
Tung Tau tak pernah sepi pengunjung. Sebagian datang dengan rasa
penasaran pada cita rasa kopi Tung Tau, sebagian besarnya lagi datang
untuk merayakan kenangan manis di masa lalu.
�Ada yang datang ke sini, keturunan Belanda. Dulu ibu dan bapaknya,
kakek neneknya sering datang ke sini. Jadi mereka kembali datang ke
sini,� kata Mariany.
�Di sini jadi tempat kongkow-kongkow, tempat nostalgia, karena dulu
banyak pelanggan kakek sampai bapak dan ibu di Sungailiat adalah
karyawan PT Timah. Sebelum kerja, mereka datang ke warung karena dulu
kan warung sudah buka sejak jam 4 (pagi). Mereka karyawan di situ. Nah,
anak-anaknya kemudian jadi langganan di sini juga karena waktu kecil
sering melihat bapak ibunya ke warung ini. Yang sudah pindah, juga
menyempatkan diri datang ke sini untuk bernostalgia,� tuturnya
kemudian.�
<sumber dari http://waroengtungtau.com/berita-116-merayakan-kenangan-di-warung-kopi-tung-tau.html>
yaa inilah tungtau warung kopi yg wajib anda kunjungi di bangka.
enak nih
BalasHapus